Friday, August 24, 2012

Renungan


Penyesalan Tiada Akhir


Renungan
Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba di rumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung shalat. Sementara anak – anak dan istri sedang berkumpul di ruang tengah. Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi – sepoi yang menghembus tepat di muka saya. Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya, berjubah putih dengan tongkot ditangannya tiba – tiba sudah berdiri di depanku. Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba –tiba itu. Sebelum sempat bertanya siapa dia, tiba – tiba saya merasa dada saya sesak, sulit untuk bernafas, namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara sebisanya. Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan – pelan dari dadaku... terus berjalan... , kerongkonganku... sakittttt... sakit rasanya. Keluar air mataku menahan rasa sakitnya. Oh Tuhan ! ada apa dengan diriku...?
                Dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku, kkhh.... kkhhh... ,kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat sangat sakit. Seolah tak mampu aku menahan benda tadi. Badanku gemetar... peluh keringat mengucur deras... mataku terbelak... air mataku seolah tak berhenti. Tangan dan kakiku kejang – kejang sedetik setelah benda itu meninggalkanku. Aku lihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu... pergi... berlalu begitu saja... hilang dari pandanganku. Namun setelah itu, aku merasa aku jauh merasa lebih ringan, sehat, segar, cerah... tidak seperti biasanya. Aku heran... istri dan anak- anakku yang sedari tadi ada di ruang tengah, tiba – tiba terkejut berhamburan ke arahku. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat di bawah sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya membiru. Siapa dia????? Siapa dia????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan, dia..... dia..... dia mirip denganku....
Ada apa ini ya Tuhan???
Aku mencoba menarik tangan isteriku tapi tak mampu... Aku mencoba merangkul anak – anakku tapi tak bisa. Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada di sini... Aku mulai berteriak... tapi mereka seolah tak mendengarkan aku, seolah mereka tak melihatku... dan mereka terus – menerus menangis... aku sadar... aku sadar bahwa orang misterius tadi telah membawa rohku... Aku telah matiii... Aku telah matiii... Aku telah meninggalkan mereka... tak kuasa aku menangis... berteriak... Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih, selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa aku lakukan untuk membimbing mereka...
Tapi waktu telah habis... masaku telah terlewati, aku sudah tutup usia pada saat aku terduduk di sofa setelah lelah seharian bekerja. Sungguh bila aku tahu aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll. Aku menyesal... Aku menyesal... aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum ibadah (shalat). Ohh Tuhan... Jika Kau ijinkan keadaanku masih hidup dan masih bisa membaca tulisan ini sungguh aku sangat amat bahagia. Karena aku masih mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa dan berbuat kebaikan sehingga bila maut menjemputku kelak aku telah berada pada keadaan yang lebih siap...  :'(

No comments:

Post a Comment